Sunday, September 25, 2016

Great Moments with Allianz + Nakita


Rezeki seorang blogger, diundang seminar.

       Rasa bahagia buat saya sering muncul dalam wujud yang bersahaja. Salah satunya, saat di bulan September ini saya menerima e-mail berisi undangan seminar dari PT. Allianz Indonesia dan Tabloid Nakita. Melihat judul dan penggagasnya, saya hampir bisa memastikan acaranya seru dan asyik. Jadi, saya berusaha meluangkan waktu untuk hadir di seminar bertajuk "Great Moments with Allianz-Nakita". Tema yang dipilih oleh penyelenggara adalah : #DareToLiveMore Mewujudkan Pendidikan Terbaik untuk Buah Hati, dan #BeraniMelangkah Beri Nutrisi Tepat untuk Masa Depan Anak.

Games sebelum acara seminar dimulai.
       Seminar yang bertujuan untuk berbagi ilmu dan mengedukasi masyarakat ini merupakan bagian dari CSR (Corporate Social Responsibility) yang digelar oleh PT. Allianz Indonesia bekerjasama dengan Tabloid Nakita. Pilihan temanya seputar dunia pendidikan dan pengasuhan anak. Ehm, kurang lebihnya tema tersebut memang cocok dengan muatan dalam blog saya. Jadi, suatu hal yang wajar apabila saya diundang untuk mendapatkan tambahan ilmu dan bahan liputan untuk mengisi blog Taman Berbagi Cerita. Yang jelas, saya senang pakai banget, bisa bertemu teman-teman blogger plus teman-teman baru, mendapat tambahan ilmu + goodie bag, serta memperluas wawasan.

Saya bersama blogger KEB Surabaya.
       Maka Sabtu pagi 24 September 2016, saya berangkat dari Sidoarjo ke Hotel Harris Gubeng, Surabaya. Saya sempat galau karena khawatir terlambat datang. Ternyata, saya tidak telat. Saat tiba di hotel, acara masih diawali dengan beberapa permainan (games) untuk para undangan yang hadir. Saya memilih melihat buku-buku yang dipajang di stan buku yang ada. Akhirnya, saya membeli sebuah buku tentang pendidikan karakter untuk mendidik anak di zaman global.

       Akhirnya, seminar pun dimulai. Bayu Oktara sebagai MC membuka acara dengan menyapa hangat para peserta seminar dengan busana bernuansa biru. Di acara ini hadir 2 orang pembicara, yaitu : dr. Mira Irmawati, Sp.A (K) dan Bapak Didin Komara (dari Allianz). Ups lupa, sebelum memasuki ballroom para peserta diminta foto terlebih dahulu di booth yang disediakan. Saya melihat banyak ibu dan anak yang berpose keren di depan fotografer. Nah, saya juga ikut foto dong! Mumpung ada yang motoin, gratis lagi. Ihiirrr!

Bayu Oktara membuka acara seminar.
        Setelah sambutan dari penyelenggara acara (PT. Allianz), sesi sharing ilmu dibuka. Di sesi pertama, dr. Mira berbagi cerita tentang pentingnya nutrisi dan stimulasi di masa tumbuh kembang seorang anak. Ibu dokter yang cantik ini menjelaskan banyak hal yang berhubungan dengan optimalisasi pertumbuhan dan perkembangan kehidupan pada anak-anak. Ada hal menarik yang diajarkan, yaitu pemilihan snack (camilan) untuk anak-anak. Camilan yang sehat dan menarik turut menunjang asupan gizi bagi anak-anak.
      
Pemenang live tweet dan posting FB terbaik.
       Sesi kedua diisi oleh Bapak Didin Komara dengan materi seputar persiapan dana pendidikan untuk buah hati. Pendidikan tinggi membutuhkan dana yang relatif besar. Orangtua perlu memikirkan cara-cara untuk menyediakan dana pendidikan dengan sebaik-baiknya untuk mewujudkan cita-cita buah hati. Allianz menawarkan beberapa solusi untuk mendapatkan dana pendidikan anak secara tepat waktu serta dalam jumlah yang mencukupi (sesuai kebutuhan).

Oleh-oleh untuk peserta : goodie bag + pisang.
       Usai materi seminar diberikan, para peserta antusias mengajukan pertanyaan kepada para pembicara di sesi tanya-jawab. Acara dilanjutkan dengan kuis untuk semua peserta, pemberian cinderamata untuk pembicara, hadiah untuk pemenang live tweet dan posting FB terbaik, serta pembagian doorprize. Ada yang unik di seminar kali ini. Salah satu hadiah yang diberikan berupa bingkisan berisi buah-buahan. Keunikan lain, isi goodie bag mendapat sumbangan buah pisang dari sponsor. Wah, biar tambah sehat nih? Oya, para peserta bisa mengambil foto masing-masing sebagai kenang-kenangan untuk dibawa pulang. 

Isi goodie bag : ada pisangnya.


       Seperti biasa, acara seminar diakhiri dengan sesi foto bersama dengan para pembicara dan santap siang. Saat menikmati makan siang, saya terharu melihat seorang ibu yang duduk di depan saya. Saya melihat seorang ibu muda sedang menikmati makan siangnya, sambil memangku anak batita. Ibu yang lebih sepuh segera mengambil si bayi dari ibu muda (entah putri kandung atau menantunya), meminta si ibu muda untuk makan terlebih dahulu. Ibu yang sepuh ini menyuapi si batita, mengabaikan nasi dan lauk di piringnya. Sebuah contoh nyata tentang kasih sayang seorang ibu yang teramat dalam.

       Well, terimakasih PT. Allianz Indonesia dan Tabloid Nakita buat undangannya. Materi seminarnya sangat bermanfaat. Semoga saya diundang lagi di kegiatan lainnya. 






Tuesday, July 5, 2016

Catatan Pengujung Ramadhan 1437 H


Takbiran penanda menyambut hari raya.

       Apa yang membuat Anda terkesan menjalani hari-hari Ramadhan di masa kecil? Buat saya, kesan mendalam di masa kanak saat menunaikan puasa Ramadhan adalah alunan shalawat tarhim menjelang azan Subuh dan suara blenggur sebagai penanda waktu berbuka puasa telah tiba. Mengapa saya bertanya tentang kenangan masa kecil? Karena, sesuatu yang indah dan berkesan dalam menjalani puasa Ramadhan di masa kanak mampu memberi semangat ketika kita bertemu Ramadhan tahun-tahun berikutnya.

       Saya menikmati sebagian masa kecil di Madiun. Di kota tersebut, waktu itu suara blenggur dijadikan penanda waktu berbuka tiba. Itu sebabnya, saya senang duduk di tempat sepi jelang waktu berbuka, menyimak dengan takzim kapan suara blenggur terdengar. Sesaat setelah suara letusan meriam kecil berdentum, saya lari masuk ke dalam rumah, mencari minuman dingin untuk berbuka puasa. Kenangan berkesan lainnya adalah suara shalawat tarhim yang terdengar usai waktu sahur. Shalawat tarhim biasa diperdengarkan di waktu imsak, mengantarkan datangnya fajar Subuh. Di telinga saya, lantunan shalawat tarhim dari masjid-masjid di pagi hari Ramadhan terasa berbeda, lebih syahdu dan menyentuh hati.


Storycake : Kekuatan Doa terbit di Ramadhan 1437 H.
   
       Alhamdulillah, kenangan manis dan berkesan dalam menikmati Ramadhan masa kecil membuat saya selalu merindukan hadirnya Ramadhan kala telah dewasa. Setelah dewasa, saya menunaikan ibadah puasa dengan beragam pengalaman, tak selalu sama dari tahun ke tahun. Saya pernah merasakan nuansa Ramadhan khas kampus semasa kuliah di pinggiran Jakarta. Suasana dan rasa Ramadhan juga terasa berbeda saat saya memasuki dunia kerja.

       Singkatnya, setiap Ramadhan memiliki warna-warni yang berubah dari tahun ke tahun. Setelah pindah dari Jakarta ke Surabaya, corak Ramadhan jelas berubah dari nuansa khas Betawi dan Sunda ke suasana Jawa Timuran. Satu yang tak berubah, antusiasme umat Islam dalam menyambut dan menyemarakkan bulan Ramadhan. Di Surabaya, saya tak mendengar suara petasan renteng seperti yang biasa disulut orang Betawi untuk menyambut bulan Ramadhan. Saya jarang melihat warga saling bertukar hantaran untuk menandai awal puasa. Namun, saya melihat pasar dan pusat perbelanjaan ramai diserbu pengunjung yang berbelanja kebutuhan selama Ramadhan. Salah satu item yang laris dibeli adalah buah kurma.

       Alhamdulillah, tahun ini saya bisa berpuasa selama satu bulan penuh, tanpa bolong. Saya bersyukur di bulan Ramadhan ini (tepatnya pertengahan Juni 2016) sebuah buku antologi yang berisi tulisan saya dan teman-teman IIDN terbit. "Storycake for Your Life : Kekuatan Doa" akhirnya hadir sebagai salah satu seri Storycake. Buku ini diterbitkan atas kerjasama Indscript Corp. dengan Penerbit Gramedia. Saya menulis dengan mencantumkan nama pena, yaitu "Muthia Kamila". Kehadiran buku ini seolah menjadi pengingat bagi saya untuk selalu berteguh hati di dalam doa-doa. Saat perjalanan hidup tak mulus, penuh ujian, dan berbagai tumpukan masalah tak mampu diselesaikan dengan logika pikiran, di situlah ranah kekuatan doa berperan.

       Doa-doa yang kita lantunkan membawa kita untuk tawakal, mengembalikan segala urusan ke tangan-Nya, memohon petunjuk solusi yang terbaik dari-Nya. Tawakal jelas-jelas berbeda dengan hopeless. Tawakal adalah rasa berserah diri setelah beragam upaya dilakukan. Tawakal adalah meminta energi dan arahan untuk terus berikhtiar menjemput masa depan yang lebih baik. Sementara itu, anggapan berdoa sebagai simbol keputusasaan adalah kesimpulan orang-orang yang pikirannya hanya diisi dengan logika duniawi semata. Berdoa, berserah diri pada Allah tidak sama dengan putus asa. Justru doa-doa adalah perwujudan semangat untuk melewati berbagai etape kehidupan yang sulit dengan bimbingan-Nya, tak berorientasi pada hawa nafsu semata.

Storycake : Kekuatan Doa mejeng di TB. Gramedia se-Indonesia.

       Maka, di pengujung Ramadhan ini saya berdoa penuh khusyu' pada-Nya memohon agar diberi usia dan kesempatan bertemu Ramadhan tahun-tahun mendatang. Semoga Ramadhan tahun ini bukanlah Ramadhan terakhir dalam hidup saya. Saya masih berkeinginan menambah amal di masa-masa mendatang. Saat alunan takbir mulai berkumandang sore ini, saya kirimkan doa untuk keluarga dan orang-orang terkasih yang telah tiada. Semoga mereka damai di sisi-Nya. 

       Di akhir Ramadhan waktu kecil saya biasa menulis ucapan selamat hari raya pada lembar-lembar kartu lebaran. Sejak beberapa tahun lalu ketika HP dan internet menyerbu dunia, saya ikut arus, tak lagi berkirim kartu lebaran. Sejujurnya, saya tetap senang dan bahagia menerima sepucuk amplop berisi kartu cantik dan ucapan selamat hari raya. Sayangnya, tak ada lagi yang mengirim kartu-kartu lebaran untuk saya. (Hehe, lha saya juga nggak kirim kartu lebaran ke siapa-siapa....) Saya bersyukur menerima kiriman beberapa kartu lebaran via e-mail. Ya, zaman sudah berubah. Saat ini orang lebih menyukai hal-hal yang praktis. 

Salah satu kartu lebaran yang saya terima.

       Saya tetap bahagia membuka e-mail berisi ucapan selamat hari raya maupun kartu lebaran. Saya sendiri tak sempat mengirim e-mail kartu lebaran untuk sahabat-sahabat dekat maupun jauh (di mata ya, bukan di hati). Siang tadi, saya masih berbelanja beberapa kebutuhan lebaran untuk sanak-kerabat. Saya sebenarnya tak berniat membeli baju baru untuk berhari raya Idul Fitri. Baju lebaran saya tahun lalu belum saya pakai, masih tersimpan rapi di plastiknya. 

       Namun, usai berbelanja buku saya mencoba sebuah gamis dan...tumben ukurannya pas di tubuh. Biasanya, gamis-gamis di gerai busana muslimah selalu menjadi 'baju kebesaran' untuk ukuran tubuh saya yang agak tergolong mungil. Nah, ketika menemukan gamis yang ukurannya pas di tubuh membuat saya kegirangan dan membelinya. Kebetulan, warnanya saya suka, kemerahan. Ya sudahlah, anggap saja gamis tersebut sebagai hadiah karena saya sudah berhasil berpuasa sebulan penuh. Boleh kan?

Kartu lebaran dari Inspira Book.

       Pembaca, selamat Idul Fitri 1437 H. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga Allah Swt. menerima segala amal ibadah kita di bulan Ramadhan. Semoga kita bertemu Ramadhan tahun-tahun mendatang. Yuk mari, insya Allah besok saya mudik.






Wednesday, June 29, 2016

Ayah yang Hangat Mengantarkan Masa Depan Cerah untuk Anak


Oka Antara berbagi tips menjadi seorang ayah.

       Ada satu buku cerita anak-anak yang pernah saya baca. Judulnya "Cita-Cita Si Bayi Kelinci". Kisahnya kurang lebih seperti yang saya tuliskan ini. Alkisah, seekor bayi kelinci lahir. Keluarga dekat dan para kerabat datang untuk menyampaikan ucapan selamat serta harapan untuk bayi kelinci. Ada yang berharap kelak bayi kelinci akan menjadi pedagang permen, pemadam kebakaran, dan berbagai harapan lainnya. Namun, si kelinci kecil berseru,"Aku ingin menjadi AYAH kelinci!"

Sebuah buku inspiratif.

       Tahukah Anda apa pesan tersirat dari cerita tersebut di atas? Benar. Seekor kelinci jantan semestinya menerima kodrat fitrahnya dalam kehidupan, menjadi ayah dari anak-anak kelinci di masa depan. Sebuah cita-cita sederhana namun teramat mulia.

       Lalu, bagaimana dengan kehidupan kita di masa kini? Pola pengasuhan yang sering kita lihat lebih dominan dilakukan oleh para ibu. Para ayah di zaman modern ini terlihat lebih berfokus pada upaya mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Ibu memang acapkali diberi julukan sebagai madrasah atau guru pertama untuk anak-anaknya. Ibulah yang diharapkan untuk mengasuh, merawat, dan mendidik anak-anak dalam sebuah keluarga. Yang sering terlupakan adalah seorang ayah adalah Kepala Sekolah yang bertugas membuat 'kurikulum' dalam pengasuhan serta pendidikan bagi anak-anaknya. Ayah sebagai kepala sekolah bertugas menentukan visi pengasuhan, bahan ajar, lengkap dengan kegiatan evaluasi atas pola asuh yang didelegasikan kepada ibu. Seorang ayah juga diharapkan mampu menjadi Guru Pendamping bagi ibu untuk bersama-sama menanamkan dan mengajarkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan.

       AYAH adalah gelar yang sangat mulia, gelar yang layak disematkan untuk laki-laki yang mampu mengemban kewajiban keayahan. Apabila seorang ayah turut terlibat dalam mengasuh anak bersama ibu, maka kehidupan keluarga menjadi lebih harmonis. Ayah bukan hanya berfungsi memberi uang seperti mesin ATM. Ayah juga bukan hanya menjaga keamanan seperti Satpam. Seorang ayah mengemban amanah luhur untuk meneruskan peradaban yang lebih baik melalui anak-anak yang berkualitas, cerdas, sehat, shalih, dan bermanfaat bagi umat manusia.

       Jadi, apa saja tanggung jawab yang harus dilakukan ayah? Sebagai seorang muslim, saya mengambil contoh seorang hamba Allah yang kisahnya ditulis dalam Al-Quran. Ya, kisah Luqman dalam mendidik anak-anaknya. Luqman biasa memanggil anak-anaknya dengan sebutan "Ya Bunayya" (Wahai anakku), panggilan yang penuh rasa sayang.

       Ada beberapa hal yang ditanamkan Luqman kepada anak-anaknya seperti tertulis di QS. Luqman : 13-19, yaitu :

- Jangan mempersekutukan Allah Swt (menanamkan keimanan);
- Berbuat baik kepada kedua orangtua (ibu dan bapak);
- Berbuat kebaikan karena setiap kebaikan pasti akan mendapatkan balasan;
- Melaksanakan shalat, berbuat baik (ma'ruf), mencegah yang munkar, dan bersabar atas apa yang menimpa;
- Jangan memalingkan wajah dari manusia;
- Jangan bersikap sombong dan angkuh;
- Sederhana dalam berjalan, serta anjuran untuk melunakkan (melembutkan) suara.

       Hal-hal tersebut di atas wajib untuk diajarkan seorang ayah kepada putra-putrinya, menanamkan akidah serta keimanan, menjalin hubungan baik dengan keluarga maupun lingkungan sekitar. Satu agenda besar yang tentu perlu dijalankan bersama di antara ayah dan ibu.

Bermain bersama ayah membangun kedekatan ayah-anak.

Di dalam ajaran Islam, ada sebuah hadits yang berbunyi :

“Ajari anak-anakmu berenang, berkuda dan memanah.” 

 (HR. Bukhari-Muslim),

maka tugas seorang ayah untuk menjadikan anak-anaknya generasi penerus yang tangguh selayaknya ditunaikan. Ternyata, ayah tak hanya dituntut menanamkan nilai-nilai agamis, akademis, maupun membangun hubungan baik dengan lingkungan. Ayah juga wajib membuat keturunannya sehat, berkualitas, dan memiliki ketrampilan fisik untuk menaklukkan dunia. Itu sebabnya, di hadits disebutkan beberapa jenis ketrampilan fisik : berenang, berkuda, dan memanah.

       Nah, tugas seorang ayah ternyata berat juga ya? Ayah harus mencari nafkah, menjaga ibu (istri) serta anak-anak, menanamkan keimanan dan pemahaman agama, mengajari ketrampilan fisik, membuat keluarga sejahtera dan harmonis. Wow, sesuatu yang keren bukan?! Tak bisa dipungkiri, jika kewajiban sebagai ayah dilaksanakan dengan baik dan ikhlas, balasannya adalah kehidupan surga di dunia dan akhirat. Masalahnya, haruskah berbagai kewajiban keayahan tersebut dilakukan dengan keras, tegas, dan penuh hukuman agar semuanya terselesaikan dengan baik? Tentu tidak. Saya yakin bahwa AYAH YANG HANGAT akan lebih dicintai dan dituruti kata-katanya oleh anggota keluarga.

       AYAH yang HANGAT adalah ayah yang mampu menanamkan akidah maupun tanggung jawab kepada putra-putrinya secara lembut, menyenangkan, dan berkesan. Ayah yang hangat mampu menjadi matahari yang senantiasa menerangi hati keluarga, istri serta anak-anaknya. Para ayah bisa membangun kehangatan kasih sayang untuk anak-anaknya lewat beragam cara, misalnya :

- mengajak anak-anak shalat Shubuh berjamaah di masjid tiap pagi
- meluangkan waktu 1 X dalam sebulan untuk berenang bersama anak-anak
- membuat sarapan bersama ibu untuk dinikmati bersama di hari libur
- mendengarkan curhat (cerita) anak di malam hari, meski tidak setiap hari
- mengajak anak bersilaturahmi dengan keluarga besar yang lama tak dikunjungi, dlsb.

       Seorang ayah bisa membangun kedekatan dengan anak-anak tanpa perlu biaya besar. Yang perlu dipersiapkan adalah kemauan dan kreativitas untuk mengubah sesuatu yang sederhana menjadi pengalaman yang berkesan. Ayah yang hangat, dekat, dan menyenangkan diharapkan mampu mengantarkan anak-anaknya menuju masa depan yang cerah. Ibarat burung yang terbang dengan dua sayap, anak-anak butuh kasih sayang dan peran ayah-ibu untuk membuat mereka bisa terbang meraih impiannya. Dunia seorang ayah bukan hanya berupa kotak : koran, televisi, maupun komputer (gadget). Dunia seorang ayah teramat luas, mengarahkan anak-anaknya untuk menjadi penerus peradaban.

        Wahai para AYAH, berperanlah sebagai pendamping terbaik untuk para ibu dalam mengasuh, mendidik, serta membesarkan anak-anak. Jangan sampai anak-anak negeri ini merasa tak berayah karena tak merasakan peran dan kehadiran ayah dalam kehidupannya. Kita tentu tak ingin negeri ini menjadi fatherless country. Negeri tanpa ayah. Sekali lagi, ayah yang hangat mampu membentuk kemandirian, keberanian, dan ketegasan. Sosok ayah dibutuhkan untuk membangun karakter-karakter ketangguhan agar anak-anak mampu mengambil keputusan, menjemput cita-cita serta masa depan yang cerah dan bahagia bagi anak-anaknya. Jadi, berperanlah wahai para ayah. Tunaikan kewajiban sebagai ayah yang hangat, agar negeri ini mewarisi anak-anak penerus bangsa yang berkepribadian utuh, berkualitas, dan bermanfaat bagi umat manusia.