Sunday, December 31, 2017

Rupiah, Cinta yang Tak Tergantikan

Uang baru untuk angpao lebaran. 

       Apa kebiasaan yang menjadi tradisi di Indonesia saat menyambut hari raya Idul Fitri? Benar sekali. Salah satu  tradisi di Indonesia untuk menikmati hari raya lebaran adalah menukarkan uang dengan beragam nilai nominal dalam bentuk uang yang masih baru (tidak lusuh) ke bank-bank yang ada di sekitar wilayah tempat tinggal. Uang yang terlhat masih kinclong tersebut lazim dibagikan ke sanak saudara, khususnya anak-anak, sebagai hadiah (angpau) di hari raya.

       Tahukah Anda perjalanan sejarah mata uang kita? Jika Anda kurang mengetahuinya, mari kita menengok sejenak ke masa lalu. Rupiah yang kita kenal sekarang ini, awalnya disebut ORI (Oeang Republik Indonesia). ORI adalah mata uang pertama yang dimiliki Pemerintah Republik Indonesia (RI)  setelah merdeka. ORI tidak hanya berfungsi sebagai alat pembayaran yang sah, namun ORI juga merupakan lambang utama negara yang merdeka (berdaulat). ORI resmi beredar pada 30 Oktober 1946. Desain perdana ORI berupa uang kertas 1 sen, di bagian muka bergambar keris terhunus, di sisi belakang bergambar teks Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. ORI pertama tersebut ditandatangani AA Maramis, Menteri Keuangan di masa itu.

       Di hari beredarnya ORI, uang Jepang dan uang Javasche Bank dinyatakan tidak berlaku. Seri-seri berikutnya, pada lembaran ORI sering ditampilkan tokoh Presiden RI Soekarno. Tujuan pemilihan gambar Soekarno adalah menggelorakan semangat perlawanan rakyat Indonesia terhadap penjajah. Sejarah ORI ini patut diketahui generasi zaman now agar tumbuh rasa cinta dan bangga dalam menggunakan mata uang rupiah.

Mata uang rupiah seri terbaru. 


       Di era kemerdekaan, keberadaan mata uang rupiah dijamin oleh Undang-Undang (UU) nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang yang terbit pada tanggal 28-06-2011. Di dalam UU ini diatur segala sesuatu tentang mata uang rupiah. Sebagai definisi mata uang di UU no 7/2011 yaitu uang yang dikeluarkan oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang selanjutnya disebut rupiah. Mata uang rupiah berlaku di seluruh wilayah teritorial Indonesia, termasuk kapal dan pesawat terbang yang berbendera RI, Kedutaan Besar RI, dan perwakilan RI lainnya di luar negeri.

Mata uang rupiah wajib digunakan dalam :
1) setiap transaksi yang mempunyai tujuan pembayaran;
2) penyelesaian kewajiban lainnya yang harus dipenuhi dengan uang dan/atau;
3) transaksi keuangan lainnya yang dilakukan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

       Dengan demikian setiap orang dilarang menolak untuk menerima rupiah sebagaimana hal-hal tersebut di atas. Bahkan,  penolakan untuk menerima rupiah sebagai alat transaksi serta alat penyelesaian kewajiban bisa dikenai hukuman pidana (1 tahun penjara) maupun denda sebesar 200 juta rupiah (pasal 33 UU nomor 7/2011).

       Nah, dalam keseharian kita seringkali menemukan uang rupiah yang rusak atau lusuh karena kegiatan transaksi keuangan yang berulangkali. Bagaimana menghadapi hal semacam ini? Uang-uang rupiah tersebut bisa dilakukan penukaran ke Bank Indonesia (BI) ya Bro and Sist. Tak perlu ragu untuk meminta penukaran atas uang rupiah yang kita miliki. Biasanya, BI memiliki jadual waktu penukaran yang diberikan sebagai salah satu pelayanan kepada masyarakat.

Contoh pengumuman penukaran uang rupiah. 


       Dari uraian sederhana di atas dapat disimpulkan mengapa kita harus mencintai mata uang rupiah dalam kehidupan kita, yaitu :

1) Setelah mengetahui sejarah ORI, kita harus memiliki kesadaran bahwa kehadiran rupiah merupakan sebuah perjuangan panjang seluruh bangsa Indonesia dalam mewujudkan kedaulatan negaranya, negara Indonesia yang merdeka dan berdaulat. Mencintai rupiah berarti menghormati hasil perjuangan para pahlawan dalam meraih kemerdekaan NKRI.

2) Terbitnya peraturan perundangan terkait mata uang rupiah seharusnya membuat kita memiliki kesadaran untuk lebih memahami perihal penggunaan serta pengelolaan mata uang rupiah dalam keseharian. Penerapan peraturan perundangan dengan tepat di kehidupan akan meningkatkan martabat uang rupiah di Indonesia serta di dunia internasional.

3) Menghargai dan bangga dalam menggunakan mata uang rupiah merupakan upaya menjadikan rupiah sebagai raja di negerinya sendiri. Hal ini sejalan dengan upaya mewujudkan mata uang rupiah sebagai simbol kedaulatan negara RI.

Ada lima hal kecil yang bisa kita lakukan sebagai ekspresi cinta pada rupiah, yaitu :
a)  Tidak melipat uang rupiah.
b)  Tidak mencoret-coret uang rupiah.
c)  Tidak menstepler rupiah.
d)  Tidak meremas-remas uang rupiah.
e)  Tidak membasahi uang rupiah.

       Sebagai penutup artikel ini, saya tuliskan lirik lagu "Rupiah" yang pernah dipopulerkan oleh Rhoma Irama. "Hidup memang perlu rupiah. Tetapi bukan segalanya. Silakan mencari rupiah. Asal jangan halalkan cara." So, Bang Haji Rhoma saja cinta rupiah sampai dibuat menjadi lagu. Jadi, Anda semua yang bermukim di wilayah NKRI rasanya tak ada alasan untuk tidak mencintai rupiah. Buat saya sih, rupiah adalah cinta yang tak tergantikan. Salah satu aplikasinya adalah saya selalu menggunakan mata uang rupiah dalam bertransaksi sehari-hari, menabung, serta berinvestasi. Kesimpulan singkatnya, mari kita jadikan cinta rupiah sebagai wujud rasa cinta kepada bangsa dan negara Indonesia.







Friday, September 1, 2017

Rasa Syukur dan Waktu Terbaik


Bingkai kenangan Idul Fitri 2017.


       Hallo pembaca! Bagaimana kabarnya? Saya cukup lama tak menyapa Anda dengan tulisan-tulisan di blog ini. Anda ingin tahu mengapa saya lama tak menulis? Heuheu, ceritanya cukup panjang. Masih mau tahu? Pingin tahu banget? Baiklah, mari saya jelaskan ya.

       Saya mengingat dengan baik, di bulan September 2016 ada sebuah undangan dari Allianz dan Nakita. Nah, di bulan September tersebut saya terpaksa merenovasi rumah. Terpaksa? Ya, terpaksa. Kusen kayu jendela depan rumah ada yang lapuk, menciptakan celah di bagian bawah. Celah itu semakin melebar ketika kucing-kucing liar berusaha masuk ke dalam rumah, menggaruk kayu yang lapuk. Bulan September identik dengan musim penghujan. Maka, hujan terus-menerus dan udara dingin telah menarik hati seekor ular masuk ke dalam rumah, melalui celah kusen kayu yang terbuka.

       Saya sungguh bersyukur, ular tersebut tak menyakiti. Allah swt berkenan melindungi saya. Namun, saya merasa trauma. Itu sebabnya, dana di tabungan saya pergunakan mengganti kusen-kusen jendela yang mulai rapuh, melapisi semen halaman belakang, dst. Akibatnya, tabungan saya terkuras dengan cepat, dan beberapa rencana musti disesuaikan. Sepertinya, ada sedikit kesalahan dalam proses pengerjaan bangunan di halaman belakang.

       Hujan deras turun di malam hari usai saya ikut acara Allianz + Nakita. Saya berasa mimpi ketika ada rasa dingin air merambati punggung. Ternyata? Air hujan yang tak mampu melewati saluran pembuangan masuk ke dalam rumah. Saya pasrah. Saya buka pintu depan, membiarkan air mengalir ke halaman. Ujian baru terasa berat saat pagi harinya saya harus membersihkan rumah, mengepel, mencuci baju-baju yang terendam air, memilah buku-buku yang basah, dst. Akibatnya? Tak hanya demam menggigil, pinggang saya serasa mau lepas. Alhasil, dokter meminta saya bedrest sampai tubuh pulih kembali. Grrrr....

Saya di samping Kelenteng Bon Tek Bio.

       Demikianlah saudara-saudara, setelah beberapa bulan beristirahat (dalam arti tidak melakukan pekerjaan yang berat-berat), pinggang saya mulai membaik. Namun, ide-ide tulisan di kepala menjadi tak tertuliskan. Saya sepertinya keenakan menikmati istirahat, lupa masih banyak pe-er menulis yang harus segera dieksekusi. Saya menata ulang rencana-rencana. Kesimpulannya, tahun 2017 saya harus lebih rajin menulis, termasuk mengisi blog. Kenyataan berbicara berbeda. Tahun 2017, saya dimutasikan ke kantor lama. Kok kantor lama? Benar, saya sudah pernah bertugas di kantor tersebut, bergabung kembali di 2017. Tugas baru, beradaptasi dengan lingkungan baru, tambahan tugas mengisi website kantor, membuat rencana aktif menulis di blog pribadi kembali tertunda.

       Namun, saya meyakini bahwa segala sesuatu pasti sudah mengikuti perencanaan Allah swt yang lebih hebat dan sempurna. Ada banyak kebaikan (kebarokahan) dan hadiah-hadiah dari Allah swt yang sungguh luar biasa dan layak saya syukuri sepanjang tahun 2017. Bulan Januari, saya menikmati suasana baru di kantor. Bulan Februari, Allah swt mengizinkan saya bertemu kembali dengan seorang sahabat lama yang berbelas tahun tak bersua. Bulan Maret, Allah swt membawa kaki saya melangkah ke Gili Labak, Sumenep. Bulan April, saya banyak mengikuti kegiatan yang menambah ilmu. Bulan Mei, saya menikmati liburan kecil ke Jakarta, berbonus bisa hadir di sebuah acara Femina (Writer's Club) yang diadakan di The Westin Jakarta.

       Bulan Juni, saya menjalankan ibadah puasa Ramadhan yang terasa lebih nyaman dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, ikut hadir pada undangan buka puasa bersama di acara Womenwill Conference kerjasama Femina dan Google Indonesia, serta berlebaran di kota kecil tercinta. Bulan Juli, saya merasa bahagia bisa bersilaturahmi dengan teman-teman kuliah di Kampus Jurang Mangu, ikut tes masuk Unair dengan hasil lulus (diterima). Bulan Agustus, saya mulai mengikuti perkuliahan di Unair, dan pindah ke Surabaya menjadi anak kos lagi. Maka, nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?

Shalat Idul Adha 1438 Hijriah.

       Semua kenikmatan di atas, pastilah sudah diatur Allah swt dengan sebaik-baiknya. Buat saya, hal-hal kecil dan bisa jadi sepele di mata orang lain, adalah anugerah Allah swt yang sungguh luar biasa. Saya teringat tulisan bijak yang beberapa bulan lalu sempat beredar di WA. Saya ketikkan ulang untuk Anda semua :

"Papua 2 jam lebih awal dari Jakarta, namun bukan berarti Jakarta lambat, dan Papua cepat. Keduanya bekerja sesuai "Zona Waktu" masing-masing. Ada orang yang masih sendirian. Ada yang sudah menikah beberapa kali. Ada yang menikah, namun harus menunggu 10 tahun untuk memiliki momongan. Ada yang diberi momongan dalam setahun waktu pernikahan.

Ada orang yang lulus kuliah di usia 22 tahun, menunggu 5 tahun untuk mendapatkan pekerjaan. Ada juga yang baru lulus kuliah usia 27 tahun, langsung mendapatkan pekerjaan. Seseorang menjadi CEO di usia 25 tahun, meninggal di usia 50 tahun. Orang lain, menjadi CEO di usia 50 tahun, hidup hingga usia 90 tahun.

Setiap orang bekerja mengikuti "Zona Waktu" dengan kecepatan masing-masing. Bekerjalah sesuai "Zona Waktu" kita. Kolega kita, teman-teman, adik kelas kita mungkin tampak lebih maju. Yang lain, terlihat di belakang kita.

Setiap orang di dunia ini berlari di perlombaannya sendiri-sendiri, jalurnya sendiri-sendiri, dalam waktunya masing-masing. Allah swt punya rencana yang berbeda-beda untuk masing-masing orang. Waktu untuk setiap orang berbeda-beda.

Obama pensiun dari jabatan presiden di usia 55 tahun. Trump menjadi presiden di usia 70 tahun. Jangan iri kepada mereka, atau mengejeknya. Itu "Zona Waktu" mereka. Kita pun berada di "Zona Waktu" kita sendiri. Kita tidak terlambat, tidak lebih cepat. Kita punya "Zona Waktu" sendiri.

Yang penting kita terus berusaha dan berkarya terbaik sehingga rencana-rencana indah Allah swt atas hidup kita terjadi (menjadi kenyataan). Allah swt pasti membuat semuanya indah pada waktunya.
Mari kita menikmati waktu terbaik yang Allah swt pilihkan untuk kita...."

       Demikianlah, pagi hari di awal bulan September, saya terbangun oleh suara takbir bersahutan. Saya melakukan muhasabah (perenungan) kecil atas perjalanan selama tahun 2017 ini. Saya menerima banyak nikmat, kebaikan, dan hadiah dari-Nya. Kesemuanya pantas untuk saya syukuri. Hidup merupakan rangkaian perjalanan untuk mensyukuri segenap anugerah-Nya, meyakini bahwa Allah swt memberi "Zona Waktu" yang berbeda-beda, waktu terbaik yang Allah swt pilihkan bagi setiap hamba-Nya untuk menerima 'piala' keberuntungan.

       Tugas kita sebagai hamba adalah berdoa dan bersyukur kepada-Nya, serta optimis berikhtiar, percaya bahwa Allah swt pasti menurunkan keberhasilan, keindahan, maupun terkabulnya permohonan di waktu terbaik yang ditetapkan-Nya untuk kita. Alhamdulillah, saya menghirup udara pagi awal September dengan rasa syukur teramat dalam, serta meyakini bahwasanya waktu-waktu terbaik akan Allah swt berikan di sesi yang tepat. Delapan bulan di tahun 2017 telah menjadi bukti "Zona Waktu" untuk sesi terbaik saya sedang bekerja. Maka, nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?







Saturday, November 12, 2016

Talkshow : Kebahagiaan Keluarga Penentu Karakter dan Tumbuh Kembang Anak


Para pembicara (ki-ka) : Gusti Kattani, Oka Antara, dr. Ahmad Suryawan, dan Rini.

Happydate with Legendaddy, Minggu, 20 Maret 2016
Mataram Room, Hotel Sheraton Surabaya
Pembicara :
1. Gusti Kattani Maulani (Lani), Brand Manager Lactogrow
2. Oka Antara (Oka), aktor (pemain film/public figure)
3. Dr. dr. Ahmad Suryawan, Sp.A(K) (dr. Wawan), dokter dan ahli tumbuh kembang anak
4. Rini Hildayani,M.Si, Psi (Rini), psikolog anak


        Keluarga merupakan wadah yang menjadi tempat seorang anak tumbuh dan berkembang. Sebuah survei tentang arti kebahagiaan keluarga yang dilakukan Lactogrow melalui media sosial kepada orangtua menunjukkan hasil hanya 53 % responden yang menyatakan bahwa anak mereka merasa bahagia terkait dengan hubungannya bersama orangtua. Di samping itu, orangtua merasa bahwa waktu yang mereka habiskan bersama buah hati kurang mencukupi. Hal ini ditindaklanjuti Lactogrow dengan melakukan focus group discussion (FGD) dengan para ibu untuk menggali lebih dalam seputar faktor penentu kebahagiaan keluarga serta bagaimana upaya untuk memaksimalkan kebahagiaan tersebut.

      Para ibu merasa bahwa pola asuh anak berperan penting dalam menentukan kebahagiaan keluarga. Salah satu contoh adalah pola makan yang baik dan teratur berdampak pada kesehatan anak yang berujung pada kebahagiaan keluarga. Para ibu juga menyatakan bahwa keharmonisan serta kerjasama yang baik antara ibu dan ayah dalam pengasuhan anak menjadi faktor penting dalam menyempurnakan kebahagiaan sebuah keluarga. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sehat dan bahagia diharapkan mampu menjadi pribadi yang berkarakter positif dan tangguh di masa depan.

       Berangkat dari latar belakang tersebut di atas, Lactogrow berusaha meningkatkan kemampuan dan keterlibatan orangtua dalam pengasuhan anak untuk mengoptimalkan kualitas kebahagiaan keluarga. Berikut ini petikan talkshow yang digelar Lactogrow tentang "Kebahagiaan Keluarga Penentu Karakter dan Tumbuh Kembang Anak". Ada 4 pakar yang berbagi ilmu dengan dipandu oleh Amy Zein sebagai moderator.

1) Bagaimana mewujudkan kebahagiaan dalam keluarga?

~ Lani :
"Dari hasil survei, 53 % menyatakan bahwa anak-anak berbahagia bersama orangtua mereka. Sementara itu, ada 47 % responden menyebutkan bahwa anak-anak kurang (tidak) berbahagia bersama orangtua mereka. Dari hasil FGD diketahui bahwa para ibu merasa bahagia bersama anak-anak jika bisa melakukan aktivitas sederhana bersama-sama, misalnya : jalan-jalan 1 bulan 1 kali bersama keluarga, memiliki waktu khusus untuk bereksplorasi bersama anak-anak. Intinya adalah kebersamaan. Maksudnya, para ibu dan anak-anak merasa bahagia apabila melakukan kegiatan yang membuat mereka bisa berkumpul dan melakukan sesuatu bersama-sama."

~ Rini :
"Kebahagiaan adalah berkaitan dengan hubungan yang hangat dan menyenangkan. Anak-anak yang berusia 4-5 tahun akan merasa bahagia saat diajak bermain-main. Anak adalah peniru terbaik dari orangtuanya. Oleh karena itu, orangtua diharapkan memberi contoh yang baik kepada anak-anak."

~ Oka :
"Sebagai orangtua (ayah) lakukan sesuatu yang melebihi standar agar anak-anak merasa bahagia. Misalnya, saat pulang ayah bisa mengajak anak-anak bermain bersama, bersepeda, atau jalan-jalan ke taman. Yang penting, ayah turut berinteraksi dengan anak-anak."

~ dr. Wawan :
"Kebahagiaan anak sebaiknya tidak ditunggu, namun dibentuk. Sebab, ada hubungan antara kebahagiaan seorang anak dengan kesehatan saluran cerna. Rasa bahagia menimbulkan reaksi hormonal dan neurotransmitter dalam diri anak. Saluran cerna anak dan sirkuit otak saling berhubungan. Contohnya, anak yang sedih reaksinya perutnya terasa sakit. Anak yang lapar, maka kepalanya terasa pusing. Maka, orangtua selayaknya berusaha membuat anak-anak bahagia agar mereka tumbuh optimal dan sehat pula saluran cernanya."

dr. Wawan menjelaskan hubungan antara rasa bahagia dan kesehatan saluran cerna.

2) Bagaimana cara meningkatkan quality-time dengan anak? 

~ Rini :
"Bermain bersama anak-anak bisa menjadi salah satu pilihan quality-time. Interaksi orangtua-anak bisa membangun 4 hal : respon, emosi, afeksi, dan support (dukungan) pada diri anak-anak. Bermain bersama ini dapat meningkatkan kualitas kebahagiaan keluarga. Hal yang membuat anak bahagia sebenarnya sederhana. Yaitu, orangtua bersedia menjadi objek bermain untuk anak-anak. Contohnya, ayah mau dijadikan kuda-kudaan oleh anak, dst. Permainan seperti ini bisa dilakukan di rumah, tanpa modal. Pada dasarnya, anak-anak menyukai sesuatu yang ada kejutannya."

~ Lani :
"Hubungan orangtua-anak yang berkualitas harus diupayakan sekuat tenaga. Terlebih, menjadi orangtua tidak ada buku panduannya. Hubungan yang berkualitas bisa dibangun dengan sesuatu kegiatan yang unik di antara orangtua dan anak."

~ Oka :
"Sebagai ayah dari 3 anak bertipe explorer, kebersamaan biasa dilakukan dengan menentukan tema setiap minggu. Misalnya, minggu pertama-basket, minggu kedua-beladiri, minggu ketiga-bersepeda, dst. Kebersamaan yang berkualitas tak selalu membutuhkan banyak dana."

~ dr. Wawan :
"Kebahagiaan bagi anak tidak mengenal strata. Anak-anak yang tinggal di pegunungan, bisa mengeksplorasi alam. Yang tinggal di kota tentu berbeda pula permainannya. Yang terpenting kualitas hubungan dengan anak-anak bisa dilakukan melalui pola asuh yang memperkaya (enrichment) pengalaman seorang anak dengan menciptakan beragam kreativitas. Hal-hal semacam ini penting agar anak-anak tumbuh sehat dengan saluran cerna yang sehat pula. Sebuah contoh, anak yang saluran cernanya terganggu karena faktor psikis, maka obat terbaiknya adalah kebahagiaan yang diberikan oleh orangtuanya. Nutrisi diperlukan untuk membuat saluran pencernaan sehat. Rasa kasih sayang juga dibutuhkan untuk menunjang tumbuh-kembang anak-anak secara optimal."

3) Apakah benar anak perempuan lebih dekat dengan ayah, dan sebaliknya?

~ Rini :
"Anak perempuan tidak selalu dekat dengan ayah. Sebaliknya, anak lelaki tidak selalu dekat dengan ibu. Ayah dan ibu harus sama-sama berperan agar memiliki kedekatan dengan anak. Ibu memang biasa bertugas dalam pengasuhan harian. Namun, ada nilai-nilai yang perlu ditanamkan oleh seorang ayah kepada anak, baik perempuan maupun laki-laki. Karakter kepemimpinan, cara mengambil keputusan, dan keberanian dalam mengambil risiko adalah ilmu yang biasanya dimiliki dan layak diturunkan dari ayah kepada anak-anaknya."

~ dr. Wawan :
"Ada common sense, suatu hal alami bahwa anak laki-laki lebih dekat ke ibunya. Sebaliknya, anak perempuan lebih dekat ke ayahnya. Ibu (wanita) cenderung mempunyai banyak kata-kata (informasi) yang membuat anak merasa tenang. Hal ini biasanya disukai anak laki-laki. Ayah biasanya lebih pendiam, namun bijak dalam berkata-kata. Sisi ini, cenderung disukai anak wanita. Hal terbaik adalah apabila anak (laki maupun wanita) bisa dekat dengan ayah dan ibunya. Mereka bisa mendapat banyak informasi (ilmu) dari ibu. Mereka akan menerima informasi yang bijak dan tepat dari ayah."

Salam jempol dari para pembicara.

4) Bagaimana aturan memberi gadget ke anak-anak?

~ Rini : 
"Anak-anak yang berusia di bawah 3 tahun, sebaiknya tidak diperkenalkan dengan gadget. Anak yang berusia di atas 3 tahun boleh diperkenalkan dengan gadget, namun disertai aturan. Saat berkumpul bersama keluarga, semestinya semua anggota keluarga berhenti bermain gadget."

~ dr. Wawan :
"Anak-anak biasanya menyukai gambar dan suara yang berganti-ganti dengan cepat. Anak-anak yang berusia di atas 6 tahun, bisa diizinkan bermain gadget maksimal 2 jam/hari. Jika bermain gadget lebih dari 2 jam bisa menimbulkan gangguan dimensional. Contohnya : semut dan gajah di layar gadget ukurannya hampir sama besarnya, padahal dalam kenyataan ukuran mereka jelas jauh berbeda. Orangtua harus memiliki kontrol pada anak-anak dari hal-hal yang bisa membahayakan dan menimbulkan kecanduan seperti ini."

5) Bagaimana cara membangun komunikasi ortu dan anak, apakah gaya berkomunikasi ayah berubah sesuai usia anak?

~ Rini :
"Anak usia 1-3 tahunan biasanya butuh ruang untuk bereksplorasi. Orangtua perlu memodifikasi lingkungan tempat tinggal agar aman dan tak banyak larangan untuk anak. Orangtua bisa berkomunikasi sesuai usia dan tingkat pemahaman anak. Semakin anak-anak dewasa, biasanya komunikasi ayah mengalami penurunan. Porsi bicara ayah cenderung berubah ketika anak-anak beranjak dewasa, biasanya lebih bijak dan berwibawa."

~ Oka :
"Saat anak-anak masih kecil, cari 1 waktu khusus untuk berbicara (berkomunikasi) dengan anak-anak. Di special time ini berikan penjelasan kepada anak-anak mengapa ada hal-hal yang dilarang atau tidak boleh mereka lakukan. Jangan lupa, sampaikan alasan-alasannya. Sebagai ayah dari 3 anak berusia 3 tahun, 5 tahun, dan 7 tahun, cara berkomunikasi kepada setiap anak tentu berbeda. Sebagai pekerja seni (aktor) dengan ritme waktu bekerja yang berbeda dengan pekerja kantoran, menanamkan father figure itu penting. Setiap individu (ayah) pasti memiliki cara yang berbeda-beda. Gaya berkomunikasi tentu berubah berdasarkan perubahan usia anak-anak."





~ Catatan :
Tulisan ini dipersembahkan sebagai kado di Hari Ayah Nasional, 12 November 2016.
Selamat Hari Ayah Nasional 2016! Jadilah ayah terbaik untuk putra-putri Anda. ^_^