Thursday, December 31, 2015

Ayo Kita Berdonasi di Bulan Dana PMI


Salah satu bentuk dukungan PMI.

       PMI atau Palang Merah Indonesia terbentuk pada 17 September 1945. Namun, organisasi yang bergerak di bidang palang merah sebenarnya sudah ada sejak zaman pemerintah kolonial Belanda. Di masa sekolah, kita biasanya lebih mengenal PMR (Palang Merah Remaja) sebuah kegiatan alternatif (ekstrakurikuler) yang diadakan di sekolah. Setelah dewasa, kita akrab dengan PMI di hari-hari menjelang peringatan ulang tahun kemerdekaan RI lewat programnya yang berlangsung rutin yaitu donor darah.

       Sebagian masyarakat Indonesia cenderung mengenal dan mengindentikkan PMI hanya sebagai organisasi yang mengurusi masalah donor darah. Sudah. Kita kurang memahami bahwa PMI ternyata memiliki seabrek kegiatan lain yang berkaitan dengan tugas-tugas di bidang kemanusiaan. Ada banyak aktivitas yang didukung PMI saat terjadi musibah atau bencana, misalnya : bantuan dapur umum di lapangan saat terjadi bencana, pelayanan kesehatan, serta pelayanan ambulans.

PMI turut aktif dalam banyak kegiatan yang berkaitan dengan bidang pelayanan, yaitu :

# Manajemen bencana, melalui layanan kesiapsiagaan bencana, tanggap darurat bencana, maupun proses pemulihan sesudah bencana.

# Kesehatan, melalui program-program :
- PPBM (Pertolongan Pertama Berbasis Masyarakat)
- Pertolongan Pertama dan ambulans
- Program air dan sanitasi
- PSP (Psychosocial Support Programme atau Program Dukungan Psikososial)
- Pencegahan penyebaran HIV dan AIDS
- Operasi katarak

# Donor darah, melalui layanan donor darah di masyarakat.

Hari Sukarelawan PMI, 26 Desember 2015.

       PMI aktif berkiprah di tengah masyarakat Indonesia dengan jangkauan dari anak-anak, remaja, hingga usia dewasa. Sebuah program yang dilakukan PMI adalah penyuluhan tentang perilaku sehat sebagai awal pencegahan HIV/AIDS pada Hari AIDS Sedunia tanggal 01 Desember 2015. PMI juga melakukan serangkaian kegiatan untuk memberikan pembekalan dan pembinaan kepada para sukarelawan PMI yang tersebar di seluruh Indonesia. Berawal dari bencana tsunami Aceh pada 26 Desember 2004, setahun kemudian tanggal 26 Desember ditetapkan sebagai Hari Sukarelawan PMI.

       Setelah melihat program-program kegiatan, penyuluhan, kampanye, aktivitas pembinaan (generasi muda plus relawan), maupun pengkaderan di tubuh PMI, badan ini pasti membutuhkan banyak dana untuk menggerakkan roda aktivitasnya. Itu sebabnya, PMI mencanangkan tahun 2015/2016 sebagai Bulan Dana PMI. Di ajang penggalangan dana ini PMI mengajak segenap lapisan masyarakat Indonesia untuk turut berpartisipasi mendukung kegiatan-kegiatan PMI di Bulan Dana PMI 2015/2016.

Uluran dukungan bantuan/sumbangan dapat disalurkan lewat transfer dana melalui bank-bank sebagai berikut : 

- Bank BCA Kantor Cabang Utama Thamrin, nomor rekening : 206-38-1794-5
atas nama : PMI DKI JAKARTA Panitia Bulan Dana PMI Provinsi DKI Jakarta.

- Bank Mandiri Kantor Cabang Kramat Raya, nomor rekening : 123-00-17091945
atas nama : PMI DKI JAKARTA Panitia Bulan Dana PMI Provinsi DKI Jakarta.

- Bank DKI Kantor Cabang Utama Juanda, nomor rekening : 101-03-17094-7
atas nama :  PMI DKI JAKARTA Panitia Bulan Dana PMI Provinsi DKI Jakarta.

       Ayo peduli bantu sesama di Bulan Dana PMI. Apabila dana yang Anda miliki terasa kurang besar, tak ada salahnya jika Anda mengajak keluarga dan teman-teman untuk patungan. Setelah terkumpul dana yang memadai, silakan tansfer ke nomor rekening bank-bank tersebut di atas. Percayalah, berapa pun sumbangan yang Anda salurkan pasti membantu dan memberikan kemajuan yang lebih besar bagi PMI. Anda ingat motto PMI di kegiatan donor darah? Tepat. Setetes darah Anda, menyelamatkan nyawa orang lain. Mari kita modifikasi sedikit motto tersebut. Kita tulis semboyan baru di Bulan Dana PMI. Seribu, dua ribu rupiah yang Anda sumbangkan, mampu menyelamatkan kehidupan sesama dan mendukung program-program PMI. Bravo Palang Merah Indonesia! Semoga PMI terus berjaya dalam menjalankan tugas-tugas kemanusiaan di Indonesia. Sumbangan dana dari masyarakat adalah amanah dan dukungan agar PMI semakin hebat dan berdaya dalam mewujudkan visi dan misinya, serta mampu memberikan layanan yang lebih berkualitas dalam tugas-tugas kemanusiaan bagi bangsa Indonesia.


Lomba blog Bulan Dana PMI.



~ Catatan :
Foto-foto diambil dari website PMI (www.pmi.or.id). 






Monday, December 28, 2015

Seminar Writingpreneur : Masa Depan di Ujung Pena (Bagian II)


Haidar Bagir berbagi cerita tentang kiat menulis.

PPKK Universitas Airlangga, Sabtu, 14 November 2015
Convention Hall, Kampus C Unair Surabaya
Pembicara : Dr. Haidar Bagir


# Mengapa Memilih menjadi Seorang Writerpreneur?

       Dr. Haidar Bagir saat ini dikenal sebagai CEO Penerbit Mizan, seorang penulis, serta tercatat pernah terpilih sebagai Pemimpin Redaksi Republika. Sosok seperti Haidar Bagir layak disebut sebagai writerpreneur. Dalam seminar yang digagas PPKK Unair beliau berbagi cerita tentang alasan memilih menjadi seorang writerpreneur. Haidar senang membaca sejak kecil. Kebiasaan baik inilah yang membuatnya mulai suka menulis. Di masa kecil, oleh-oleh yang sering diberikan oleh ayah Pak Haidar untuk anak-anaknya adalah buku.

       Saat Pak Haidar muda masih masuk kategori zaman susah. Bacaan yang bisa dibaca sebatas komik "Karman dan Saleh", "Rumah Kecil di Padang Rumput" (Laura Ingals), dan komik-komik Kho Ping Hoo. Cerita dalam komik tidak selalu buruk. Komik silat Jawa maupun China sebenarnya banyak mengandung hikmah (kebijakan) yang bisa dipetik. Banyak membaca buku merupakan awal dari munculnya kemampuan untuk menulis. Secara jelas dalam dunia nyata terlihat bahwa orang yang tidak suka membaca sulit (bahkan tidak mungkin) menjadi seorang penulis. Tanpa didukung oleh hobi membaca, orang cenderung 'sembelit' untuk menulis, atau malah tidak mampu menulis.

       Kapan sebaiknya kita menulis? Resep Haidar sederhana saja, orang bisa menulis bagus saat kepalanya penuh dengan bahan dan terpaksa harus dikeluarkan dalam bentuk tulisan. Ketika duduk di bangku SMA, Haidar memiliki guru Bahasa Indonesia yang berkualitas. Sehingga, Haidar bisa mengikuti lomba menulis, juara 1 dalam lomba menulis di Solo, hingga tingkat Provinsi Jawa Tengah. Kebiasaan membaca dan menulis berlanjut saat Haidar kuliah di ITB Bandung yang memiliki perpustakaan dengan koleksi buku-buku bagus. Waktu mahasiswa, Haidar biasa menulis di Harian Pikiran Rakyat yang menyediakan kolom "Halaman Mahasiswa" dan sering mendapat honor dari tulisan yang dimuat.

       Semasa mahasiswa, Haidar aktif dalam kegiatan kampus di Masjid Salman ITB, dan menjadi pengurus program Ramadan di Salman. Ada sebuah fenomena baru yang muncul di tahun 1970-an, yaitu orang-orang yang shalat di Masjid Salman adalah pemakai mobil mewah. Hal ini menunjukkan Masjid Salman menjadi tempat berkumpulnya kalangan kelas menengah muslim. Kelas menengah muslim merupakan kelompok baru di Indonesia, yaitu kalangan menengah muslim yang religius, tertarik untuk memahami dan mengamalkan ajaran Islam dengan lebih baik.

       Secara singkat, kelompok baru muslim kalangan menengah yang relatif kaya tersebut mempunyai selera menjalani hidupnya seperti kalangan santri. Kelas menengah baru ini membutuhkan 'air' yang menyejukkan dahaga mereka akan pengetahuan yang lebih luas tentang Islam. Fenomena yang ada di tengah masyarakat tersebut di atas menjadi salah satu semangat bagi Haidar untuk berdakwah lewat tulisan (buku). Celah (peluang) yang timbul dari munculnya kelas menengah Islam di Indonesia dijawab Haidar pada tahun 1983 dengan mendirikan Penerbit Mizan bersama 2 orang temannya, Ali Abdullah dan Zainal Abidin Shahab. Mengapa? Saat itu, buku-buku Islam yang beredar belum banyak, tampilan serta isi buku-buku Islam masih sederhana (kurang menarik). Kondisi ini diisi Penerbit Mizan dengan menerbitkan buku-buku Islam dengan kualitas relatif bagus, tampilan dan isi menarik, untuk meningkatkan wawasan keislaman masyarakat Indonesia.

       Dengan demikian terjawab pertanyaan mengapa Pak Haidar memilih membangun penerbitan dan menjadi seorang writerpreneur, yaitu :

1. Pekerjaannya melibatkan membaca dan menulis yang merupakan hobi (passion)
2. Menyalurkan semangat untuk menghabiskan hidup dalam dakwah Islam
3. Usaha (bisnis) penerbitan menjanjikan pemasukan yang relatif besar sekaligus bisa memberi lapangan kerja.

Haidar terlihat jeli melihat peluang, yaitu pangsa pasar yang belum digarap orang lain. Keadaan yang ada di tengah masyarakat (kalangan muslim baru), ditindaklanjuti dengan memenuhi kebutuhan maupun keinginan mereka (buku-buku untuk menambah wawasan keislaman). Semua syarat untuk mencapai keberhasilan ada pada diri Haidar. Penerbit Mizan kini termasuk salah satu dari 5 penerbit terbesar di Indonesia, dengan 'anak' di antaranya : Bentang Pustaka, Noura Books, DAR! Mizan, serta Qanita.

       "Saya menulis, karena itu saya ada," itulah semboyan dari Haidar Bagir. Menulis itu menjadi ekspresi keberadaan kita. Menulis juga untuk berdakwah. Menulis mampu memberi 'kehidupan' bagi orang lain. Hal ini terbukti, Mizan saat ini mempunyai tak kurang dari 600 karyawan. Menulis tak sekadar kegiatan yang menyenangkan, namun menulis bisa memberdayakan orang lain, serta memberi pencerahan dalam kehidupan masyarakat luas.





Friday, December 18, 2015

Seminar Writingpreneur : Masa Depan di Ujung Pena (Bagian I)


Kak Irfan berbagi ilmu menulis.

PPKK Universitas Airlangga, Sabtu, 14 November 2015
Convention Hall, Kampus C Unair Surabaya
Pembicara : Kak Irfan (Irfan AmaLee)


       Irfan berlatar pendidikan S1 jurusan tafsir hadits, dan pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren. Namun, dia kini lebih dikenal sebagai penulis buku anak-anak dan memiliki spesialisasi divisi media kreatif pendidikan untuk anak-anak Islam. Hal ini menunjukkan bahwa seorang penulis tidak selalu harus berasal dari pendidikan bahasa dan sastra. Beberapa penulis sukses juga tidak berpendidikan awal jurusan bahasa. Contohnya : Dewi Lestari (Dee Lestari, awalnya adalah penyanyi), Faisal Baraas (seorang dokter), Andrea Hirata (berpendidikan ekonomi), dll. Kesimpulannya, apa pun latar belakang pendidikan dan profesi seseorang, bukan halangan untuk menulis.

       Irfan memanfaatkan ilmu keislaman yang dipelajarinya dengan menjadi penulis buku anak-anak Islam. Salah satu karyanya adalah membuat buku tafsir Al-Qur'an juz 30 untuk anak-anak. Selanjutnya, dia membuat tafsir Al-Qur'an juz 1-30 khusus untuk anak-anak Islam. Setelah melalui sebuah proses, inovasi Irfan mendapat restu dari MUI. Dalam keluarganya, 7 orang anak ditentukan pilihan pekerjaan mereka oleh ayahnya. Irfan mendapat tugas untuk menjadi seorang ahli agama (kyai). Meski tidak berhasil menjadi seorang kyai konvensional, Irfan sukses memenuhi keinginan ayahnya menjadi 'kyai' dengan menulis. Maksudnya, Irfan berdakwah melalui dunia tulis-menulis. Irfan juga mampu menghidupi dirinya beserta keluarga dengan menulis. Seorang penulis yang berjiwa entrepreneur (pebisnis) bisa memberikan manfaat bagi diri sendiri serta masyarakat. Penulis yang berbisnis (writerpreneur) mampu menghidupi orang lain dengan usaha yang dibangunnya.

Berikut ini tahap-tahap untuk menjadi penulis profesional :

1) Why - tetapkan alasan yang jelas
Maksudnya, tentukan alasan yang kuat mengapa Anda memilih untuk menjadi seorang penulis.

2) What - apa yang harus ditulis?
Ada beberapa bahasan yang bisa dijadikan ide menulis, yaitu :
- minat      (misalnya : pendidikan agama Islam)
- keahlian  (misalnya : arsitektur)
- referensi penerbit     (misalnya : penerbit A - khusus untuk buku pelajaran sekolah)
- kebutuhan pembaca (misalnya : keinginan masyarakat untuk belajar ilmu mengelola keuangan)

Sebaiknya, seorang penulis membuat tulisan berdasarkan apa yang menjadi minatnya. Penulis semestinya berwawasan luas, mempunyai banyak pengetahuan tentang berbagai hal meski hanya sedikit-sedikit, dan memiliki 1 spesialisasi.

3) How - bagaimana menuliskannya?
Tentukan pilihan tulisan yang akan dibuat, fiksi atau nonfiksi.
Kedua jenis tulisan ini sama-sama berpeluang untuk menjadi karya yang best-seller. Namun, bentuk dan cara penulisan kedua jenis karya tersebut jelas berbeda.

4) How to publish - bagaimana cara menerbitkannya?
Saat ini dunia penerbitan buku sudah sangat berkembang. Kita bisa mempublikasi naskah melalui dua jenis penerbitan :
- penerbit mayor (biasanya penerbit besar yang buku-bukunya masuk ke toko buku offline)
- penerbit indie    (self-publishing, yaitu penerbit yang buku-bukunya biasa dijual secara online melalui internet, dan mencetak buku hanya berdasarkan permintaan)

Irfan menerima cinderamata dari Unair.

Proses untuk menulis bisa dilakukan hanya dalam waktu 7 hari, yaitu :

# Hari Ke-1 : Tanyakan, mengapa saya harus menulis?
Beberapa alasan bisa dipilih sebagai motivasi untuk menulis.
Misalnya : berbagi ilmu, berdakwah, mengubah hal yang buruk menjadi baik, ingin dikenal orang semasa masih hidup dan tetap dikenang setelah meninggal, dll.

#Hari Ke-2 : Tetapkan tujuan, apa yang akan saya tulis?
Hal ini sudah dibahas sebelumnya, setidaknya ada 4 hal yang bisa ditulis. Tetapkan saja salah satu tujuan utama sebagai pilihan.
Contohnya : cerita anak-anak, cerita inspiratif Islami, novel remaja, dst.

# Hari Ke-3 : Menyesuaikan antara preferensi (kesukaan) penerbit dan keinginan pembaca
Kita bisa melihat rak-rak toko buku untuk mendapatkan data tema buku-buku yang best-seller. Kita juga dapat melakukan riset sederhana dengan memasukkan keyword di google. Semakin tinggi angka yang muncul menunjukkan semakin banyak orang yang mencari informasi tentang topik tersebut. Seorang penulis harus melihat cara menyajikan tulisan dari kacamata editor dan pembaca. Sebab, karya yang tidak disukai pembaca tidak akan dibeli dan dibaca konsumen.

#Hari Ke-4 : Membuat Judul yang Menarik
Sebuah judul menjadi salah satu penentu buku dibaca dan dibeli orang. Judul harus dibuat menarik dan mengundang rasa ingin tahu pembaca.
Contohnya : novel yang ditulis Andrea Hirata isinya sangat menarik, berkisah tentang 10 orang siswa yang mempunyai seorang guru hebat. Jika 10 siswa ini tidak datang ke sekolah, maka sekolah akan ditutup.
Judul awal novel adalah : Komedi Putar.
Setelah judul novel diubah menjadi "Laskar Pelangi", karya Andrea Hirata masuk peringkat best-seller dan kisahnya sudah difilmkan.

#Hari Ke-5 : Membuat Profil yang Menarik
Tulislah profil diri Anda semenarik mungkin, sehingga editor dan penerbit memutuskan naskah Anda layak untuk diterbitkan.

#Hari Ke-6 : Membuat Outline Naskah
Salah satu bahan keputusan untuk menerbitkan naskah dari penulis adalah sinopsis dan outline yang bagus.
Sinopsis dibuat dengan unsur :
- mengandung trouble (masalah untuk dipecahkan)
- mengandung secret source (cara rahasia dalam memecahkan masalah)

Sementara itu, outline dibuat untuk menjelaskan bab demi bab isi naskah. Ide-ide tulisan dimuat dalam outline naskah. Outline yang bagus dan menarik pasti mencuri hati penerbit untuk menerbitkan karya seorang penulis.

#Hari Ke-7 : Memperhatikan Kepadatan Paragraf Tulisan
Dalam membuat tulisan, kepadatan paragraf menjadi salah satu hal yang patut dipertimbangkan. Paragraf dibuat dengan kepadatan yang hampir sama, tidak menampilkan 'ketimpangan'.
Misalnya : 1 paragraf sangat panjang, paragraf lainnya pendek-pendek.

       Demikianlah kiat-kiat menulis dan membuat naskah buku yang dipaparkan oleh Kak Irfan. Sebuah karya istimewa telah dihasilkan Irfan, buku berjudul "Beasiswa di Bawah Telapak Kaki Ibu". Buku ini bisa menjadi contoh untuk menulis buku yang baik. Judulnya terasa berbeda dan mengundang minat membaca jika dibandingkan buku-buku lain dengan tema serupa. Kita bisa mulai menerapkan tahap-tahap menulis buku dengan langkah sederhana di atas. Jangan lupa, terapkan 1 kiat dalam waktu 1 hari. Sehingga, di hari ke-7 semoga Anda sudah siap untuk menulis dan menghasilkan sebuah buku.