Tuesday, July 23, 2013

Bunga itu Beraneka Warna


Dunia anak-anak penuh warna.


Flowers are Red

The little boy went first day of school
He got some crayons and he started to draw
He put colors all over the paper
For colors was what he saw

And the teacher said, "What you doin' young man?"
"I'm paintin' flowers" he said
She said, "It's not the time for art young man
And anyway flowers are green and red"

"There's a time for everything young man
And a way it should be done
You've got to show concern for everyone else
For you're not the only one"

And she said, "Flowers are red young man
And green leaves are green
There's no need to see flowers any other way
Than the way they always have been seen"

But the little boy said
"There are so many colors in the rainbow
So many colors in the morning sun
So many colors in the flower and I see every one"

Well the teacher said, "You're sassy
There's ways that things should be
And you'll paint flowers the way they are
So repeat after me"

And she said, "Flowers are red, young man
And green leaves are green
There's no need to see flowers any other way
Than the way they always have been seen"

But the little boy said
"There are so many colors in the rainbow
So many colors in the morning sun
So many colors in the flower and I see every one"

The teacher put him in a corner
She said, "It's for your own good
And you won't come out 'til you get it right
And are responding like you should"

Well finally he got lonely
Frightened thoughts filled his head
And he went up to the teacher
And this is what he said

And he said
"Flowers are red, and green leaves are green
There's no need to see flowers any other way
Than the way they always have been seen"

Time went by like it always does
And they moved to another town
And the little boy went to another school
And this is what he found

The teacher there was smilin'
She said, "Painting should be fun
And there are so many colors in a flower
So let's use every one"

But that little boy painted flowers
In neat rows of green and red
And when the teacher asked him why
This is what he said

And he said
"Flowers are red, and green leaves are green
There's no need to see flowers any other way
Than the way they always have been seen"

 (from : www.metrolyrics.com)


Lagu ini berkisah tentang seorang anak yang di hari pertama masuk sekolah menggambar bunga-bunga dengan beragam warna yang berbeda. Gurunya menilai bahwa bunga yang digambarnya salah. Seharusnya, dia memberi warna merah pada bunga dan hijau untuk daun, seperti yang selalu mereka lihat. Si anak protes, dia meneruskan menggambar sesuai imajinasinya. Hingga, guru itu menghukumnya. Akhirnya, anak itu menerima permintaan sang guru bahwa “bunga berwarna merah dan daun berwarna hijau.” Si anak melakoninya terus menerus, sampai melanjutkan sekolah ke tempat lain.

Puisi karya Harry Chapin dan kisah di atas mengingatkan saya pada sebuah pengalaman masa kecil. Saat itu, saya duduk di bangku Sekolah Dasar. Suatu hari, murid-murid mendapat tugas menggambar pemandangan alam. Saya membuat gambar dengan warna-warna yang nyeleneh, tidak lazim menurut standar warna yang normal. Berikut ini detil warna dalam gambar yang saya buat : awan berwarna ungu kehitaman, bunga-bunga berwarna biru, daun-daun penuh warna kuning tua dan merah hati. Aneh! Mungkin, begitu komentar sebagian orang.

 Akibatnya, wali saya dipanggil ke sekolah. Guru menggambar menyarankan agar saya dibawa ke dokter mata. Saya dikhawatirkan mengidap penyakit buta warna! Olala.... Akhirnya, terjadi dialog di antara sesama orang dewasa tersebut. Wali saya menjelaskan bahwa pada kondisi tertentu awan mendung memang muncul berwarna ungu (kelabu) plus kehitam-hitaman. Di luar negeri, ada bunga-bunga yang berwarna biru. Spesies tanaman puring daunnya banyak yang berwarna kuning, oranye atau kemerahan. Nah, saya tidak buta warna bukan?!

Roda kehidupan terus melaju. Zaman demi zaman berlalu. Dahulu, seorang anak yang kreatif kadang-kadang justru dianggap ‘berbeda’ dan kurang mampu diterima lingkungannya. Alhamdulillah, di masa kini sistem pendidikan di negara kita sudah banyak berubah. Namun, sistem dan pola belajar mengajar di sekolah tentu perlu terus ditingkatkan. Model pendidikan di masa kecil saya rata-rata bercorak factory style (zaman pabrik) dengan pola pembelajaran satu arah, bercorak doktriner. Di akhir fase belajar, ada quality control bernama ujian nasional. Guru mengajar di depan kelas, murid-murid menghafalkan materi pelajaran. Jawaban ujian cenderung harus sama seperti yang diajarkan. Kreativitas anak didik relatif kurang ditumbuhkan.

            Alhamdulillah, semangat menumbuhkan kreativitas di dunia pendidikan kini semakin berkembang. Banyak sekolah baru bermunculan, mengusung kurikulum dan metode belajar yang semakin berkualitas, menyenangkan dan memberdayakan siswa berikut segala potensi kreativitas yang dimilikinya. Semoga generasi baru ini kelak mekar menjadi bunga yang beraneka warna di taman indah Indonesia. Biarkan bunga terlukis beragam warna. Bunga-bunga tak melulu berwarna merah. Seperti halnya cita-cita masa kecil, tak semuanya harus menjawab : “Presiden!”

*) Surabaya, 23 Juli 2013.

~ Tulisan ini didedikasikan untuk anak-anak Indonesia, “Selamat Hari Anak Nasional! Nikmatilah keceriaan masa anak-anakmu. Lukislah impianmu dalam beragam warna, seindah pelangi di angkasa."   ^_^



Sunday, July 21, 2013

Buka Bersama Smada '90 Kediri di Surabaya


Sebagian alumni Smada '90 Kediri di Surabaya.
       

       “Undangan syukuran dan bukber Smada ’90 Kediri beserta keluarga,  Sabtu, 20-07-2013 pk. 17.00 WIB di RM. Agis-dekat Masjid Al-Akbar. Please, confirm untuk reservasi.”

Sebuah sms masuk ke HP saya siang itu. Undangan buka puasa pertama yang saya terima. Awalnya, saya ragu-ragu untuk hadir. Ada setumpuk pekerjaan rumah tangga yang harus saya lakoni di hari libur Sabtu-Minggu. Pada akhirnya, saya mantapkan hati untuk hadir. Saya sudah setahunan tak pernah bertemu teman-teman SMA, meski kami tinggal di kota yang berdekatan (Surabaya dan Sidoarjo). Di hari H, saya putuskan berangkat ke acara bukber sedikit terlambat. Saya selesaikan terlebih dahulu tugas-tugas di rumah. Pertimbangan lain, saya lebih nyaman pergi ke acara selepas shalat maghrib di rumah. Toh, jarak ke RM. Agis relatif dekat dari tempat tinggal saya.

Saat saya datang, teman-teman sudah menyelesaikan santap buka puasanya. Saya mengambil sepiring nasi dan lauk serta es dawet, sekadar mencicip rasa makanan di RM. Agis. Alhamdulillah, sore itu hadir 11 alumni Smada ’90 Kediri. Saya, Ninik, Emy, Luluk Baroroh, Ricka, Iwan (Abboe), Agus Salam, Yayak (Zaki) adalah grup yang sudah lama rajin hadir di ajang kumpul-kumpul. Moh. Amin dan Tjatur baru saya lihat lagi wajahnya sejak lulus SMA, 23 tahun lalu. Sementara itu, Arif B.S bergabung kembali di Surabaya karena alih tugas dari Papua ke Sidoarjo. Itu sebabnya, dia merasa perlu mengundang teman-teman sebagai ungkapan rasa syukur.

Kehadiran suami/istri serta anak-anak ikut meramaikan suasana buka bersama kali ini. Beragam cerita lucu dan tawa riang terdengar sejak sore hingga malam. Tak ada pesta yang tak berakhir, begitu kata pepatah. Acara buka bersama harus diakhiri saat malam semakin gelap dan anak-anak kecil yang hadir terlihat rewel, meminta segera pulang. Seperti biasa, agenda kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama sebagai kenang-kenangan dan bukti kehadiran. Alhamdulillah, setelah berpamitan, bersalaman dan berciuman (sesama wanita ya!), kami pulang ke rumah dengan hati bahagia. Insya Allah, semoga kita bisa bertemu lagi di lain waktu.   ^_^


Friday, July 19, 2013

Rumah Sehat dan Ramah Lingkungan (Bagian II)


Ary berbagi ilmu tentang "Rumah Ideal di Kota Besar."


Seminar Femina, Sabtu, 21 Mei 2011
Hotel J.W. Marriott Surabaya
Pembicara : Ary Indra (arsitek)

~ Fungsional
Rumah sebagai tempat tinggal adalah tempat bermukim manusia dan keluarganya beserta seluruh perlengkapan hidupnya. Sebuah kebiasaan manusia adalah menyimpan segala perlengkapan dan barang-barang yang diperlukan di dalam rumahnya. Sebenarnya, kebiasaan menyimpan yang berlebihan bukanlah sesuatu yang harus dipupuk dan dibiasakan. Apabila terlalu banyak benda tak berguna yang disimpan di dalam rumah akan menjadikan hunian tidak sehat. Sebab, banyak kemungkinan kotoran atau hewan yang dapat tinggal di dalamnya.
Pembiasaan untuk memilah dan membuang barang-barang yang tidak diperlukan minimal sebulan sekali adalah hal yang perlu kita lakukan.

Ada beberapa kiat untuk membuat rumah tampak rapi dan terorganisir :
1. Simpanlah barang-barang yang memang benar-benar dibutuhkan. Kita seharusnya memulai kebiasaan membeli barang-barang sesuai kebutuhan, bukan sekadar keinginan.
2. Apabila barang-barang yang dibutuhkan itu tetap memiliki jumlah yang berlebih sementara  ruangan di rumah tidak terlalu besar, siasati ruang yang ada untuk menyimpan benda-benda yang kita miliki.

 Caranya :
 - maksimalkan semua ruang tersisa sebagai tempat penyimpanan.
 - manfaatkan elemen dalam rumah Anda dengan lebih kreatif.
 - buatlah gudang vertikal, misalnya dengan memanfaatkan ruang di bawah tangga atau menyimpan barang-barang di laci yang kita jadikan sebagai pijakan tangga.
 - menutup ruang penyimpanan dengan tirai-tirai dapat mempercantik ruangan dan memudahkan pengambilan benda-benda tersebut saat kita butuhkan.

Upaya-upaya tersebut di atas dapat dilakukan agar rumah mungil kita dapat memenuhi kebutuhan menyimpan yang biasanya menjadi kendala terbesar pada perawatan rumah tinggal. Dengan demikian kita dapat memanfaatkan ruang-ruang yang ada sesuai fungsi masing-masing secara optimal. Apabila kita mampu menata barang-barang dan ruang-ruang dengan rapi dan teratur maka rumah mungil kita akan menjadi tempat yang nyaman bagi para penghuninya.

~ Bersahabat dengan Alam
Manusia tanpa disadari mulai semakin jauh dari alam sekitarnya. Kita seringkali membuat batas tertentu dengan alam karena beranggapan bahwa alam sekitar ini kotor dan perlu ada jarak agar tidak terjadi kontak langsung dengan alam.
Rumah mungil yang memilki cukup banyak bukaan ke udara luar sangat bermanfaat bagi penghuninya. Cahaya matahari yang menyehatkan dapat membersihkan udara di dalam rumah sekaligus menciptakan animasi pada dinding-dindingnya. Jalinan udara alami yang dibiarkan berembus ke dalam rumah dapat menciptakan rasa nyaman tanpa harus membakar sumber energi tak tergantikan. Embusan angin bebas dapat memberi kepuasan pada indera pendengaran. Misalnya : bunyi angin yang timbul saat menerobos paksa lubang yang sengaja atau tidak sengaja diciptakan di rumah kita.

Rumah yang ideal adalah rumah yang justru dekat dengan alam di sekitarnya. Rumah seharusnya memiliki bukaan yang menjadikan rumah sebagai bagian dari alam atau sebaliknya.

Pemilihan tanaman juga merupakan satu hal penting yang tidak boleh dilupakan. Tanaman di samping memberi keuntungan sebagai elemen peneduhan yang dapat menyegarkan udara juga berperan menjadi pemuas kebutuhan indera penciuman dan dapat menjadi bagian integral dari desain sebuah rumah. Coba kita bayangkan saat memasuki hunian kecil dengan aroma daun jeruk yang sengaja ditanam di depan sambil mata dimanjakan hijau dedaunan dan bunga adenium yang mekar. Urutan ruang dan pengalaman sederhana namun sangat menyenangkan bukan? Kita bayangkan juga, sebaran aroma sedap malam pada saat kita menghabiskan hari menikmati rembulan dari sepetak halaman belakang. Tanaman menjadi elemen yang dapat meluaskan ruang imajinasi sebuah hunian, tanpa kita sadari bahwa pada alam kenyataan sesungguhnya kita sedang berhimpitan dengan tetangga depan maupun belakang.

Upaya lain yang dapat kita lakukan adalah membuat space/ruang di antara tanaman dan dinding. Sehingga, pada musim-musim tertentu burung-burung dapat membuat sarang pada ruang-ruang tersebut di rumah kita.
Di daerah perkotaan rumah-rumah biasa dibangun seluas tanah yang ada. Hal ini dapat disiasati dengan pembuatan taman pada dinding rumah atau di atap rumah.

Ada hal lain yang tidak boleh dilupakan dalam membangun dan mempercantik rumah, yaitu memilih elemen material yang tepat dan aman untuk kesehatan keluarga serta berwawasan lingkungan. Rencana memiliki rumah ideal tidak akan tercapai apabila material pendukungnya tidak memenuhi syarat minimum kesehatan. Pemilihan cat rumah misalnya, di samping warnanya indah dipandang mata harus dipastikan keamanannya untuk kesehatan keluarga. Cat yang mengandung APEO, merkuri, formaldehide dan bahan kimia beracun lainnya harus dihindari. Saat ini sudah tersedia produk yang bebas dari unsur-unsur kimia yang berbahaya tersebut.

Sebuah rumah yang sehat memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
- memiliki sirkulasi udara yang baik.
- mendapatkan cahaya matahari/cahaya matahari masuk ke dalam rumah.
- ada tanaman dan pohon-pohon sebagai penghias dan peneduh rumah.
- mampu melakukan pengembangan di dalam rumah sehingga rumah tersebut menjadi rumah yang kaya dan sarat hal-hal baru tempat bereksplorasi bagi penghuninya.
- memiliki arah hadap yang ideal yaitu menghadap utara-selatan.

Apabila kita mampu memanjakan semua kebutuhan jasmani dan rohani maka rumah kecil kita dapat bertransformasi menjadi rumah mungil yang indah dan nyaman. Namun, kita tidak boleh melupakan elemen pelengkap lain yang dapat menambah cerita di sekitarnya. Rumah mungil mampu memenuhi kebutuhan pemiliknya dengan tepat dan bersahaja tanpa mengurangi dimensi yang kaya dan sarat pengalaman. Meskipun rumah kecil dalam ukuran namun bila kita cermat mensiasati rasa secara seksama akan mampu dengan utuh memenuhi kebutuhan penghuninya. Itulah hakekat sebuah rumah yang sesungguhnya.

Bagaimana menurut pendapat Anda, pembaca?